
Fenomena menarik datang (lagi) dari dunia fitopatologi (ilmu penyakit tumbuhan). Penyakit yang bagi sebagian kecil ilmuwan dan sebagian besar masyarakat awan dianggap merugikan, ternyata justru menguntungkan bagi manusia.
Sebagai pengantar saja, menurut pengertian yang didefinikan oleh ilmuwan penyakit tumbuhan, Penyakit diartikan sebagai salahnya fungi sel dan jaringan inang yang berasal dari gangguan secara terus-menerus oleh agensia patogenik atau faktor lingkungan dan menyebabkan perkembangan gejala (Agrios, 1996). Terjadinya kesalahan fungsi sel maupun gejala yang muncul tersebut kemudian dianggap merugikan bagi usaha pertanian karena tanaman budidaya tidak berproduksi seperti yang diharapkan ataupun tidak memiliki harga jual tinggi pada tanaman kosmetik. Oleh karena alasan inilah banyak yang menganggap penyakit merugikan bagi kehidupan manusia.
Tapi ternyata tidak seluruhnya begitu. Sebagai contoh ringan
Bunga Tulip yang bercorak merupakan bunga yang memiliki nilai tawar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bunga tulip yang polos. Bunga tulip yang bercorak tersebut sebenarnya terinfeksi virus tanaman. Virus yang menginfeksi tanaman tulip bekerja secara sitematik masuk ke dalam jaringan tanaman hingga pada fase generatif tanaman (pembentukan bunga dan biji). Proses 'salah'nya atau terganggunya sel dan jaringan karena aktivitas virus tersebut kemudian menyebabkan bunga tulip menjadi bercorak. Dan, terlihat lebih indah sehingga menyebabkan harganya lebih mahal.
Tidak berbeda dengan contoh bunga tulip itu, Trubus edisi Januari 2007 mempublikasikan bahwa pohon gaharu yang terinfeksi Patogen Fusarium malah bisa lebih mahal dibandingkan dengan tanaman yang tidak terinfeksi. Pada kondisi umum yang terjadi di lapangan, terutama tanaman hortikultura, patogen ini biasanya menyebabkan kelayuan pada tanaman, sehingga disebut juga sebagai Fusarium Wilt Disease (Penyakit layu Fusarium). Spora patogen berbentuk menyerupai bulan sabit dengan ujung agak tumpul dan bersekat. Tanaman rentan yang terserang bisa mati sebelum berbuah jika tidak segera ditangani dengan intensif.
Namun gambaran yang terjadi pada pertanaman hortikultura tidak berlaku pada tanaman kayu, pohon gaharu. Pohon yang digunakan sebagai bahan baku kemenyan, dupa, pewangi dll. ini justru berharga lebih mahal jika terinfeksi patogen parasit tersebut. Aneh, tapi fakta nyata. Pohon gaharu akan lebih banyak menghasilkan gubal jika tanaman terinfeksi oleh patogen parasit Fusarium. Secara teoritis, setiap organisme termasuk pohon gaharu akan bereaksi terhadap organisme asing yang menginfeksi ke dalam jaringannya. Menurut ilmu penyakit tanaman, proses pertahanan diri ini disebut sebagai reaksi hipersenstif. Gubal yang dihasilkan Pohon Gaharu merupakan proses proteksi alamiah untuk melokalisir penyebaran patogen Fusarium. Semakin berat serangan patogen, maka gubal yang dihasilkan oleh pohon gaharu juga akan semakin tinggi pula (pada kosentrasi tertentu).
Selain proses alamiah tersebut, teknik budidaya dan karakter antara tanaman hortikultura dan tanaman kayu memang berbeda. Tanaman berkayu akan memiliki kualitas yang lebih tinggi jika tekanan lingkungan baik biotik maupun abiotik juga tinggi. Maka dari itu biasanya para pekebun menanam tanamannya dalam jarak yang berdekatan, baru kemudian setelah terseleksi dilakukan penjarangan.
jadi, apa yang anda dapat dari artikel singkat ini?
semoga bermanfaat..
Komentar
Posting Komentar