Akar Wangi, selain memiliki nilai ekonomi yang eksotis sebagai bahan dasar parfum/pewangi dan obat-obatan, tanaman ini juga banyak dimanfaatkan untuk konservasi tanah terhadap erosi, limpasan air tanah dan lain-lain. Namun demikian, bagaimanakah pengaruhnya terhadap keberadaan hama dan penyakit serta potensi kompetisi dengan tanaman utama? Pertanyaan itu-lah yang segera menghampiri pikiran saya ketika tanaman ini dibudidayakan secara strip menyerupai pagar di antara tanaman utama.
Berdasarakn laporan penilitian dan pernyataan berbagai sumber, berikut ini saya rangkumkan hasil telaah saya:
Paul Truong, dkk. mengatakan bahwa tanaman ini tahan terhadap hama dan penyakit serta tidak tumbuh dengan rimpang (geragih) dan biji yang dihasilkan tidak berkecambah. Ciri morfologi ini membuat balitbang DEPTAN memberi kesimpulan bahwa pertumbuhan tanaman ini tidak akan menjadi tanaman pengganggu (gulma) bagi tanaman utama.
Paul Truong, dkk. dan balitbang DEPTAN juga menyatakan bahwa tanaman ini tahan terhadap hama dan penyakit. Dalam hal dibudidayakan sebagai tanaman bernilai ekonomis ataupun tanaman untuk tujuan konservasi, pernyataan mengindikasikan bahwa tanaman akar wangi bukan merupakan inang alternative dan murah biaya budidaya-nya.
Akar wangi juga merupakan tanaman pengusir serangga, seperti rayap (Zhu et al., 2001 dalam P. Rotkittikhun et al., 2010). Betty C et al. dalam publikasi di dalam Journal of Chemical Ecology: Volume 27, Number 8 (2001), 1617-1625, DOI: 10.1023/A:1010410325174 melaporkan bahwa Senyawa kimia (minyak) yang dihasilkan Vetiver dengan konsentrasi yang rendah (5
g/g tanah) dapat menurunkan aktivitas pembuatan terowongan di dalam tanah
Komentar
Posting Komentar